Herpes selama ini dikenal sebagai salah satu penyakit mudah menular yang cukup meresahkan. Tapi siapa sangka bila virus yang menyebabkan penyakit herpes itu justru dapat menjadi obat kanker.
Dokter telah berhasil menemukan hasil rekayasa virus herpes untuk mengobati pasien kanker kepala dan leher. Kanker kepala, leher, mulut, lidah dan tenggorokan diderita oleh banyak orang.“Sebenarnya pengobatan saat ini dapat mengobati secara efektif bila kanker tersebut diangkat dari awal, tapi banyak pasien yang tidak terdiagnosa hingga keadaannya cukup parah,” ujar Dr Kevin Harrington, pemimpin studi, seperti dilansir dari BBCNews, Jumat (6/8/2010).
Virus hasil rekayasa ini bekerja dengan cara dimasukkan ke dalam sel, kemudian membunuh sel kanker dari dalam dan juga merangsang sistem kekebalan tubuh pasien.
Dr Harrington menjelaskan bahwa virus herpes, yang juga sedang diuji pada pasien yang menderita kanker kulit, secara genetik dimanipulasi sehingga dapat berkembang dalam sel-sel tumor, tetapi tidak menginfeksi sel-sel sehat yang normal.
Pengobatan kanker ini memiliki tiga efek, yaitu melipatgandakan virus, membunuh sel tumor, serta direkayasa untuk memproduksi protein manusia yang mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dan juga dapat membuat protein virus yang bertindak sebagai ‘bendera merah’ untuk sel-sel imun.
Royal Marsden Hospital di London telah menggunakan virus herpes hasil rekayasa ini pada 17 pasiennya bersamaan dengan pengobatan standar, yaitu kemoterapi dan radioterapi.
Dilaporkan 93 persen pasien yang mendapat suntikan virus ini menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Virus herpes dapat membantu membunuh tumor pada kebanyakan pasien dan tidak ditemukan jejak-jejak kanker setelah pembedahan.
Lebih dari dua tahun kemudian, 82 persen pasien tidak mengeluhkan penyakit yang sama. Hanya dua orang yang kambuh dari 13 pasien yang diberi pengobatan dosis tinggi.
Tapi penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menjamin agar virus herpes bisa menjadi senjata ampuh untuk melawan kanker. Hasil temuan ini telah dipublikasikan pada jurnal Clinical Cancer Research.(detik.com)