Penyakit malaria ternyata berasal dari tubuh seekor gorila. Sejumlah peneliti di AS menemukan, parasit ini menyebar ke seluruh dunia setelah berpindah dari seekor gorila kepada seorang manusia.

Temuan DNA dari kotoran hampir 3.000 monyet — gorila, simpanse dan bonobo —  menunjukkan, strain parasit malaria yang ditemukan pada sebagian besar manusia identik dengan satu dari banyak strain yang menginfeksi gorila.Strain tersebut berbeda jauh dengan strain yang menginfeksi simpanse dan sepupu jauh mereka, bonobo, kata Beatrice Hahn dari Universitas Alabama di Birmingham dan para koleganya.

Hahn dan koleganya menggunakan kotoran monyet yang dikumpulkan untuk penelitian virus AIDS bagi penelitian mereka, yang dipublikasikan di jurnal Nature.

“Kami mengorganisasi mereka berdasarkan karakter genetika di dalam alat pendingin,” kata Hahn seperti dikutip Reuters.

Tim Hahn menguji materi genetik dari “human immunodeficiency virus” (HIV) untuk penelitian mereka tentang AIDS dan mengambil pendekatan serupa untuk penelitian terbaru mereka, yaitu mencari DNA dari parasit malaria, termasuk Plasmodium falciparum yang menyebabkan sebagian besar kasus penyakit malaria pada manusia.

“Monyet liar, terutama simpanse dan gorila barat, secara alami terinfeksi oleh sedikitnya delapan atau sembilan spesies Plasmodium yang berbeda,” kata Hahn.

Selama beberapa tahun, simpanse menjadi terduga utama. Namun data Hahn menunjukkan bahwa gorila, dan hanya gorila, yang terinfeksi oleh spesies Plasmodium yang identik secara genetik dengan tipe yang menginfeksi manusia.

“Sekarang, berapa banyak nyamuk yang menggigit manusia atau gorila saya tidak tahu. Namun hasil akhirnya adalah, berdasarkan pada analisis terhadap 105 parasit Plasmodium pada manusia, tampaknya hanya terjadi penularan tunggal,” kata Hahn.

Dengan kata lain, parasit itu hanya harus menginfeksi satu manusia atau sekelompok kecil orang sebelum dengan cepat menyebar ke banyak orang di dunia.

Malaria, yang menewaskan sekitar 800.000 orang per tahun menurut WHO, menyebar saat seekor nyamuk menggigit seorang yang terinfeksi dan membawa parasit itu ke manusia lain. Belum ada obat atau vaksin untuk penyakit itu, meskipun obat dapat mengendalikan infeksi tersebut dan membantu mencegah penyebaran penyakit itu.

“Penemuan itu  memiliki implikasi pada upaya menekan penyebaran malaria,” kata Dr Larry Slutsker, yang memimpin program malaria di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

“Jika kita mencoba untuk membasmi, berarti kita mencoba untuk menghilangkan planet setiap parasit dan ada sebuah tempat penampungan gorila di Barat, yang akan memiliki implikasi bagi upaya pemberantasan malaria,” katanya.

Gorila atau kawasan tempat mereka hidup, harus dimasukkan dalam program tersebut sehingga parasit itu tidak dapat lagi berpindah ke manusia.

Slutsker mengatakan, parasit itu mungkin tidak perlu menyebar ke manusia dari monyet melalui nyamuk. Parasit itu juga dapat disebarkan melalui transfer darah secara langsung — mungkin saat seekor gorila disembelih untuk dijadikan sebagai bahan makanan.

Banyak ahli meyakini hal itu sebagai cara HIV menular pertama kali kepada manusia. Yang tidak dapat dikatakan oleh para peneliti itu adalah kapan hal itu terjadi. HIV mengalami mutasi dan kemudian berkembang dengan cepat, dan perubahan itu dapat digunakan sebagai apa yang dikenal dengan sebuah jam molekuler untuk menandai waktu perubahan.

Parasit malaria berubah jauh lebih lambat, kata Edward Holmes dari Universitas Negeri Pennsylvania pada Nature. Banyak penyakit manusia berasal dari hewan, termasuk influenza. (kompas.com)